BAB I.
PENDAHULUAN
Kata fenomenologi berasal dari bahasa
Yunani, phenomenon, yaitu sesuatu
yang tampak, yang terlihat karena berkecakupan. Dalam bahasa
indonesia biasa dipakai istilah gejala. Secara
istilah, fenomenologi adalah ilmu pengetahuan (logos) tentang
apa yang tampak. Dari pengertian tersebut dapat dipahami bahwa fenomenologi
adalah suatu aliran yang membicarakan fenomena atau segala sesuatu yang tampak
atau yang menampakkan diri.[1]
Seorang Fenomenolog suka melihat gejala.
Dia berbeda dengan seorang ahli ilmu positif yang mengumpulkan data, mencari
korelasi dan fungsi, serta membuat hukum-hukum dan teori. Fenomenolog bergerak
di bidang yang pasti. Hal yang menampakkan dirinya dilukiskan tanpa
meninggalkan bidang evidensi yang
langsung. Fenomenologi adalah suatu metode pemikiran, “a way of looking at things”.
Dari keterangan di atas dapat dipahami
bahwa fenomenologi ini mengacu kepada analisis kehidupan sehari-hari dari sudut
pandang orang yang terlibat di dalamnya. Tradisi ini memberi penekanan yang
besar pada persepsi dan interpretasi orang mengenai pengalaman mereka sendiri.
Fenomenologi melihat komunikasi sebagai sebuah proses membagi pengalaman
personal melalui dialog atau percakapan. Bagi seorang fenomenolog, kisah
seorang individu adalah lebih penting dan bermakna daripada hipotesis ataupun
aksioma. Seorang penganut fenomenologi cenderung menentang segala sesuatu yang
tidak dapat diamati. Fenomenologi juga cenderung menentang naturalisme (biasa
juga disebut objektivisme atau positivisme). Hal demikian dikarenakan
Fenomenolog cenderung yakin bahwa suatu bukti atau fakta dapat diperoleh tidak hanya
dari dunia kultur dan natural, tetapi juga ideal, semisal angka, atau bahkan
kesadaran hidup.[2]
Jelasnya, fenomenologi mencoba menepis
semua asumsi yang mengkontaminasi pengalaman konkret manusia. Ini mengapa
fenomenologi disebut sebagai cara berfilsafat yang radikal. Fenomenologi
menekankan upaya menggapai “hal itu sendiri” lepas dari segala presuposisi. Langkah pertamanya adalah menghindari semua
konstruksi, asumsi yang dipasang sebelum dan sekaligus mengarahkan pengalaman.
Tak peduli apakah konstruksi filsafat, sains, agama, dan kebudayaan, semuanya
harus dihindari sebisa mungkin. Semua penjelasan tidak boleh dipaksakan sebelum
pengalaman menjelaskannya sendiri dari dan dalam pengalaman itu sendiri.[3] Fenomenologi menekankan perlunya
filsafat melepaskan diri dari ikatan historis apapun—apakah itu tradisi
metafisika, epistimologi, atau sains. Program utama fenomenologi adalah
mengembalikan filsafat ke penghayatan sehari-hari subjek pengetahuan. Kembali
ke kekayaan pengalaman manusia yang konkret, lekat, dan penuh penghayatan.
Selain itu, fenomenologi juga menolak klaim representasionalisme epistimologi
modern. Dengan demikian, fenomenologi yang dipromosikan Husserl ini dapat
disebut sebagai ilmu tanpa presuposisi. Hal ini
jelas bertolak belakang dengan modus filsafat sejak Hegel menafikan kemungkinannya
ilmu pengetahuan tanpa presuposisi,
dimana presuposisi yang menghantui filsafat selama ini
adalah naturalisme dan psikologisme.[4]
Dalam perkembangannya, munculnya filsafat fenomenologi telah memberikan
pengaruh yang sangat luas, dimana hampir semua disiplin keilmuan mendapatkan
inspirasi dari fenomenologi. Psikologi, sosiologi, antropologi, arsitektur
sampai penelitian tentang agama semuanya memperoleh nafas baru dengan munculnya
fenomenologi.
PEMBAHASAN
Edmund Gustav Albrecht Husserl dilahirkan pada tanggal 8 April 1859 diProstějov, Moravia, Ceko (yang saat itu merupakan bagian dari Kekaisaran Austria). Ia adalah seorang filsuf Jerman yang dikenal sebagai bapak fenomenologi. Karyanya
meninggalkan orientasi yang murni positivis dalam sains dan filsafat pada masanya, dan mengutamakan
pengalaman subyektifsebagai sumber dari semua pengetahuan kita tentang fenomena obyektif. Ia
dilahirkan dalam sebuah keluarga Yahudi di Prostějov (Prossnitz).
Husserl adalah murid Franz
Brentano dan Carl Stumpf; karya filsafatnya mempengaruhi, antara lain, Edith Stein (St. Teresa
Benedicta dari Salib), Eugen Fink, Max Scheler, Martin Heidegger, Jean-Paul Sartre, Emmanuel
Lévinas, Rudolf Carnap, Hermann Weyl, Maurice
Merleau-Ponty, danRoman
Ingarden. Pada tahun 1886 dia mempelajari psikologi dan banyak
menulis tentang fenomenologi. Tahun 1887 Husserl berpindah agama menjadi Kristen dan bergabung dengan Gereja Lutheran.
Ia mengajar filsafat di Halle sebagai
seorang tutor (Privatdozent) dari tahun 1887, lalu
di Göttingen sebagai profesor dari 1901, dan di Freiburg im Breisgau dari 1916
hingga ia pensiun pada 1928. Setelah itu, ia melanjutkan penelitiannya dan
menulis dengan menggunakan perpustakaan di Freiburg, hingga kemudian dilarang
menggunakannya – karena ia keturunan Yahudi – yang saat itu dipimpin oleh
rektor, dan sebagian karena pengaruh dari bekas muridnya, yang juga anak
emasnya,Martin Heidegger.[5] Husserl meninggal dunia di
Freiburg pada tanggal 27 April 1938 dalam usia 79 tahun akibat penyakit
pneumonia.[6]
Sementara itu dalam penelurusan Bernet
dan kawan-kawannya dalam bukunya: “An Introduction to Husserlian
Phenomenology” dapat ditemukan keseluruhan karya Edmund Husserl, dan
dipilahnya dengan kategorisasi yang rinci, seperti terlihat dalam tabel berikut
ini:
A. Mundane Phänomenologie
|
A. Mundane Phenomenology
|
||||
I. Logik
und formale Ontologie
(41 Konvolute) |
I. Logic
and Formal Ontology
(41 bundles of manuscripts) |
||||
II. Formale
Ethik, Rechtsphilosophie (1)
|
II. Formal
Ethics, Philosophy of Law (1)
|
||||
III.
Ontologie (Eidetik und ihre Methodologie) (13)
|
III.
Ontology (Eidetics and its methodology) (13)
|
||||
IV.
Wissenschaftslehre (22)
|
IV. Theory
of science (22)
|
||||
V.
Intentionale Anthropologie (Person und Umwelt) (26)
|
V.
Intentional Anthropology (Person and Surrounding-World) (26)
|
||||
VI.
Psychologie (Lehre von der Intentionalität) (36)
|
VI.
Psychology (Doctrine of Intentionality)(36)
|
||||
VII.
Theorie der Weltapperzeption (31)
|
VII.
Theory of World Apperception (31)
|
||||
B. Die Reduktion
|
B. The Reduction
|
||||
I. Wege
zur Reduktion
(38 Konvolute) |
I. Paths
to the reduction
(38 bundles of manuscripts) |
||||
II. Die
Reduktion selbst und ihre Methodologie (23)
|
II.The Reduction itself and its Methodology (23)
|
||||
III.
Vorläufige transzendentale Intentionalanalytik (12)
|
III.Preliminary
Transcendental Intentional Analysis (12)
|
||||
IV.
Historische und systematische Selbstcharakteristik der Phänomenologie (12)
|
IV.Historical
and Systematic Self-characterization of Phenomenology (12)
|
||||
C. Zeitkonstitution als formale Konstitution
(17 Konvolute) |
C. Time-Constitution as Formal Constitution
(17 bundles of manuscripts) |
||||
D.Primordiale Konstitution (“Urkonstitution“)
(18 Konvolute) |
D. Primordial Constitution (“Urkonstitution“)
(18 Bundles of manuscripts) |
||||
E. Intersubjektive Konstitution
|
E. Intersubjective Constitution
|
||||
I.
Konstitutive Elementarlehre der unmittelbaren Fremderfahrung
(7 Konvolute) |
I.
Constitutional Basic Doctrine of the Immediate Experience of the Other
(7 bundles of manuscripts) |
||||
II.
Konstitution der mittelbaren Frederfahrung (die volle Sozialität) (3)
|
II.
Constitution of the Mediate Experience of the Other (Full Sociality) (3)
|
||||
III.
Transzendetale Anthroplogie (transzendentale Theologie, usw.) (11)
|
III.
Transcendental Anthropology (Transcendental Theology, etc.) (11)
|
||||
F. Vorlesungen und Vorträge
|
F. Lecture Courses and Public Lectures
|
||||
I.
Vorlesungen und Teile aus Vorlesungen
(44 Konvolute) |
I. Lecture
Courses and Parts from Lectures
(44 bundles of manuscripts) |
||||
II.
Vorträge mit Beilagen (7)
|
II. Public
Lectures with Appendices (7)
|
||||
III. Manuskripte
der gedruckten Abhandlungen mit späteren Beilagen (1)
|
III.
Manuscripts of Published Treatises with Later Appendices (1)
|
||||
IV. Lose
Blätter (4)
|
IV. Loose
Sheets (4)
|
||||
K. Autographe, in der kritischen Sichtung von 1935
nicht aufgenommen
|
K. Autographs, not Included in the Critical
Inventory of 1935
|
||||
I.
Manuskripte vor 1910
(69 Konvolute) |
I.
Manuscripts earlier than 1910
(69 bundles of manuscripts) |
||||
II.
Manuskripte von 1910-1930 (5)
|
II.
Manuscripts from 1910-1930 (5)
|
||||
III.
Manuskripte nach 1930-zur Krisisproblematik (34)
|
III. Manuscripts later than 1930-to the problems ofKrisis (34)
|
||||
IX.-X. Abschriften von Randbemerkungen Husserl in den
Büchern seiner Bibliothek
|
IX-X.
Copies of Husserl’s Marginal Notes in Books of his Library
|
||||
L. Bernauer Maunskripte
|
L. The Bernau Manuscripts
|
||||
I. (21
Konvolute)
|
I. (21
bundles of manuscripts)
|
||||
II. (21
Konvolute)
|
II. (21
bundles of manuscripts)
|
||||
M. Abschriften von Manuskripten Husserls in
Kurrentschrift bzw. Machinenschrift, vor 1938 von Husserls Assistenten in
Freiburg ausgeführt
|
M. Copies of Husserl’s Manuscripts in Running Hand
or Typescript, Carried Out by Husserl’s Assistants Earlier than 1938
|
||||
I.
Vorlesungen
(4 Konvolute) |
I. Lecture
Courses
(4 bundles of manuscripts) |
||||
II.
Vorträge (3)
|
II. Public
Lectures (3)
|
||||
III.
Entwürfe für Publikationen (17)
|
III.
Sketches for Publications (17)
|
||||
N. Nachschriften
|
N. Transcriptions
|
||||
P. Manuskripte anderer Autoren
|
P. Manuscripts by Other Authors
|
||||
Q. Notizen Husserls in den Vorlesungen seiner Lehrer
|
Q. Husserl’s Notes from Lecture Courses by His
Teachers
|
||||
R. Briefe
|
R. Letters
|
||||
I. Briefe
von Husserl
|
I. Letters
by Husserl
|
||||
II. Briefe
an Husserl
|
II.
Letters to Husserl
|
||||
III. Brief
über Husserl
|
III.
Letters about Husserl
|
||||
IV. Briefe
Malvine Husserls (nach 1938)
|
III.
Letters by Malvine Husserl (after 1938)
|
||||
X. Archivaria
|
X. Archival Material[7]
|
||||
Fenomenologi Husserl
Sebagai studi filsafat, fenomenologi
dikembangkan di Universitas-universitas Jerman sebelum Perang Dunia I,
khususnya oleh Edmund Husserl; kemudian dilanjutkan oleh Martin Heidegger, Max
Scheler dan yang lainnya. Bahkan Jean-Paul Sartre pun memasukkan fenomenologi
dalam eksistensialisme-nya.[8]
Istilah “Fenomenologi” pertama kali
digunakan oleh J. H. Lambert (1728 – 1777). Kemudian istilah itu juga digunakan
oleh Immanuel Kant, Hegel serta sejumlah filosof lain. Namun semuanya
mengartikan istilah fenomenologi secara berbeda. Baru Edmund Husserl yang
memakai istilah fenomenologi secara khusus dengan menunjukkan metode berpikir
secara tepat.[9]Contoh misalnya, dalam karya Hegel
yang berjudul “Phenomenolgy of Spirit”. Pemaknaan
Hegel terhadap teori “fenomena” dalam buku ini berbeda dengan “fenomena”
menurut Husserl. Menurut Hegel, “fenomena” yang kita alami dan tampak pada kita
merupakan hasil kegiatan yang bermacam-macam dan runtutan konsep kesadaran
manusia serta bersifat relatif terhadap budaya dan sejarah. Husserl menolak
pandangan Hegel mengenai relativisme fenomena budaya dan sejarah, namun dia
menerima konsep formal fenomenologi Hegel serta menjadikannya prinsip dasar
untuk perkembangan semua tipe fenomenologi: fenomenologi pengalaman
adalah apa yang dihasilkan oleh kegiatan dan susunan kesadaran kita.
Menurut Husserl, fenomena adalah
realitas sendiri yang tampak, tidak ada selubung atau tirai yang memisahkan
subyek dengan realitas, karena realitas itu sendiri yang tampak bagi subyek.
Dengan pandangan seperti ini, Husserl mencoba mengadakan semacam revolusi dalam
filsafat Barat. Hal demikian dikarenakan sejak Descartes, kesadaran selalu
dipahami sebagai kesadaran tertutup (cogito tertutup),
artinya kesadaran mengenal diri sendiri dan hanya melalui jalan itu dapat
mengenal realitas. Sebaliknya Husserl berpendapat bahwa kesadaran terarah pada
realitas, dimana kesadaran bersifat “intensional”, yakni realitas yang
menampakkan diri.
Sebagai seorang ahli fenomenologi, Husserl mencoba menunjukkan bahwa
melalui metode fenomenologi mengenai pengarungan pengalaman biasa menuju
pengalaman murni, kita bisa mengetahui kepastian absolut dengan susunan penting
aksi-aksi sadar kita, seperti berpikir dan mengingat, dan pada sisi lain,
susunan penting obyek-obyek merupakan tujuan aksi-aksi tersebut. Dengan
demikian filsafat akan menjadi sebuah “ilmu setepat-tepatnya” dan pada akhirnya
kepastian akan diraih.
Lebih jauh lagi Husserl berpendapat
bahwa ada kebenaran untuk semua orang dan manusia dapat mencapainya. Dan
untuk menemukan kebenaran ini, seseorang harus kembali kepada “realitas”
sendiri. Dalam bentuk slogan, Husserl menyatakan “Zuruck zu den sachen selbst” — kembali kepada
benda-benda itu sendiri, merupakan inti dari pendekatan yang dipakai untuk
mendeskripsikan realitas menurut apa adanya. Setiap obyek memiliki hakekat, dan
hakekat itu berbicara kepada kita jika kita membuka diri kepada gejala-gejala
yang kita terima. Kalau kita mengambil jarak dari
obyek itu, melepaskan obyek itu dari pengaruh pandangan-pandangan lain, dan
gejala-gejala itu kita cermati, maka obyek itu ”berbicara” sendiri mengenai
hakekatnya, dan kita memahaminya berkat intuisi dalam diri kita.
Namun demikian, yang perlu dipahami
adalah bahwa benda, realitas, ataupun obyek tidaklah secara langsung
memperlihatkan hakekatnya sendiri. Apa yang kita temui pada “benda-benda” itu
dalam pemikiran biasa bukanlah hakekat. Hakekat benda itu ada di balik yang
kelihatan itu. Karena pemikiran pertama (first look) tidak
membuka tabir yang menutupi hakekat, maka diperlukan pemikiran kedua (second look). Alat yang digunakan untuk menemukan pada
pemikiran kedua ini adalah intuisi dalam menemukan hakekat, yang disebut
dengan wesenchau, melihat (secara intuitif) hakekat
gejala-gejala.
Dalam melihat hakekat dengan intuisi
ini, Husserl memperkenalkan pendekatan reduksi, yakni
penundaan segala pengetahuan yang ada tentang obyek sebelum pengamatan itu
dilakukan[10]. Reduksi ini juga dapat diartikan
sebagai penyaringan atau pengecilan. Reduksi ini merupakan salah satu prinsip
dasar sikap fenomenologis, dimana untuk mengetahui sesuatu, seorang fenomenolog
bersikap netral dengan tidak menggunakan teori-teori atau pengertian-pengertian
yang telah ada sehingga obyek diberi kesempatan untuk “berbicara tentang
dirinya sendiri”.
Lebih lanjut dijelaskan bahwa fenomena
dipandang dari dua sudut.Pertama, fenomena
selalu “menunjuk ke luar” atau berhubungan dengan realitas di luar
pikiran. Kedua, fenomena dari sudut kesadaran Kita, karena
selalu berada dalam kesadaran Kita. Maka dalam memandang fenomena harus
terlebih dahulu melihat “penyaringan” (ratio), sehingga mendapatkan kesadaran
yang murni. Fenomenologi menghendaki ilmu pengetahuan secara sadar mengarahkan
untuk memperhatikan contoh tertentu tanpa prasangka teoritis lewat
pengalaman-pengalaman yang berbeda dan bukan lewat koleksi data yang
besar untuk suatu teori umum di luar substansi sesungguhnya.[11]
Fenomenologi adalah ilmu tentang
esensi-esensi kesadaran dan esensi ideal dari obyek-obyek sebagai korelasi
kesadaran, Pertanyaannya adalah bagaimana caranya agar esensi-esensi tersebut
tetap pada kemurniannya, karena sesungguhmya Fenomenologi menghendaki ilmu
pengetahuan secara sadar mengarahkan untuk memperhatikan contoh tertentu tanpa
prasangka teoritis lewat pengalaman-pengalaman yang berbeda dan bukan lewat
koleksi data yang besar untuk suatu teori umum di luar substansi sesungguhnya,
dan tanpa terkontaminasi kecenderungan psikologisme dan naturalisme. Husserl mengajukan
satu prosedur yang dinamakan epoche(penundaan
semua asumsi tentang kenyataan demi memunculkan esensi). Tanpa penundaan asumsi
naturalisme dan psikolgisme, Kita akan terjebak pada dikotomi (subyek-obyek
yang menyesatkan atau bertentangan satu sama lain).
Contohnya, saat mengambil
gelas, Kita tidak memikirkan secara teoritis (tinggi, berat, dan lebar)
melainkan menghayatinya sebagai wadah penampung air untuk diminum. Ini yang
hilang dari pengalaman Kita kalau Kita menganut asumsi naturalisme. Dan ini
yang kembali dimunculkan oleh Husserl. Akar filosofis fenomenologi Husserl
ialah dari pemikiran gurunya, Franz Brentano. Dari Brentano-lah Husserl
mengambil konsep filsafat sebagai ilmu yang rigoris (sikap pikiran di mana
dalam pertentangan pendapat mengenai boleh tidaknya suatu tindakan atau
bersikeras mempertahankan pandangan yang sempit dan ketat). Sebagaimana juga
bahwa filsafat terdiri atas deskripsi dan bukan penjelasan kausal. Karena
baginya fenomenologi bukan hanya sebagai filsafat tetapi juga sebagai metode,
karena dalam fenomenologi Kita memperoleh langkah-langkah dalam menuju suatu
fenomena yang murni.[12]
Menurut Husserl “prinsip segala prinsip”
ialah bahwa hanya intuisi langsung (dengan tidak menggunakan pengantara apapun
juga) dapat dipakai sebagai kriteria terakhir dibidang Filsafat. Hanya saja apa
yang secara langsung diberikan kepada Kita dalam pengalaman dapat dianggap
benar “sejauh diberikan”. Dari situ Husserl menyimpulkan
bahwa kesadaran harus menjadi dasar filsafat. Alasannya ialah bahwa hanya
kesadaran yang diberikan secara langsung kepada Kita sebagai subjek.
“Fenomen” merupakan
realitas sendiri yang tampak, tidak ada selubung yang memisahkan realitas dari
Kita .Kesadaran menurut kodratnya mengarah pada realitas. Kesadaran selalu
berarti kesadaran akan sesuatu. Kesadaran menurut kodratnya bersifat
intensionalitas, karena intensionalitas merupakan unsur hakiki kesadaran. Dan
justru karena kesadaran ditandai oleh intensionalitas, fenomen harus dimengerti
sebagai sesuatu hal yang menampakkan diri.
Maka sebagai hasil dari metode
fenomenologi Husserl ialah perhatian baru untuk intensionalitas kesadaran.
Kesadaran Kita tidak dapat dibayangkan tanpa sesuatu yang disadari. Supaya ada
kesadaran, diandalkan tiga hal, yaitu bahwa ada suatu subyek yang terbuka untuk
obyek-obyek yang ada. Fakta bahwa kesadaran selalu terarah kepada obyek-obyek
disebut intensionalitas, Kiranya tidak tepat mengatakan bahwa kesadaran
mempunyai “intensionalitas”, karena kesadaran itu justru adalah intensionalitas
itu sendiri. Entah Kita sungguh-sungguh melihat suatu pemandangan itu atau
tidak, tetapi bila Kita masih menyadari perbedaan antara kedua kemungkinan ini maka
Kita tetap menyadari sesuatu. Kesadaran tidak pernah pasif. Karena menyadari
sesuatu berarti mengubah sesuatu. Kesadaran itu bukan berarti suatu cermin atau
foto. Kesadaran itu suatu tindakan. Artinya terdapat interaksi antara tindakan
kesadaran dengan obyek kesadaran. Namun interaksi ini tidak boleh dianggap
sebagai kerjasama antara dua unsur yang sama penting. Karena akhirnya, hanya
ada kesadaran, obyek yang disadari itu hanyalah suatu ciptaan kesadaran.[13]
Pengalaman subyek harus selalu dipandang sebagai pengalaman yang terlibat
secara aktif dengan dunia. Kesadaran tidak tertutup dari dunia, tetapi selalu
menuju, mengarah dan membuka pada dunia. Oleh karena itu Kita tidak boleh
memikirkan pengalaman dalam kesadaran manusia seperti obyek “dalam kardus”.
Pengalaman bukanlah sebuah “celah” yang
mana, dunia hadir terpisah darinya, menerobos masuk. Itu tidak sama halnya
dengan menarik sesuatu yang asing ke dalam kesadaran. Pengalaman adalah
pagelaran, yang mana bagi Kita, sosok yang mengalami. Wujud yang dialami ‘ada
di sana’ dan di sana sebagaimana adanya dengan seluruh muatannya dan modus
berada di mana pengalaman sendiri, Lewat intensionalitas, yang melekatkannya.
Ada beberapa aspek yang penting dalam intensionalitas Husserl, yakni:
1. Lewat intensionalitas terjadi objektivikasi. Artinya bahwa unsur-unsur
dalam arus kesadaran menunjuk kepada suatu objek, terhimpun pada suatu objek
tertentu.
2. Lewat intensionalitas terjadilah identifikasi. Hal ini merupakan akibat
objektivikasi tadi, dalam arti bahwa berbagai data yang tampil pada
peristiwa-peristiwa kemudian masih pula dapat dihimpun pada objek sebagai hasil
objektivikasi tersebut.
3. Intensionalitas juga saling menghubungkan segi-segi suatu objek dengan
segi-segi yang mendampinginya.
4. Intensionalitas mengadakan pula konstitusi.
“Konstitusi” merupakan proses munculnya
fenomen-fenomen kepada kesadaran. Fenomen mengkonstitusi diri dalam kesadaran.
Karena terdapat korelasi antara kesadaran dan realitas, maka dapat dikatakan
konstitusi adalah aktivitas kesadaran yang memungkinkan tampaknya realitas.
Tidak ada kebenaran pada dirinya yang lepas dari kesadaran. Kebenaran hanya
mungkin ada dalam korelasi dengan kesadaran. Dan karena yang disebut realitas
itu tidak lain daripada dunia sejauh dianggap benar, maka realitas harus
dikonstitusi oleh kesadaran. Konstitusi ini berlangsung dalam proses
penampakkan yang dialami oleh dunia ketika menjadi fenomen bagi kesadaran intensional.[14]
Sebagai contoh dari konstitusi:
“Kita melihat suatu gelas, tetapi sebenarnya yang Kita lihat merupakan suatu
perspektif dari gelas tersebut, Kita melihat gelas itu dari depan, belakang,
kanan, kiri, atas, dan seterusnya”. Tetapi bagi persepsi, gelas adalah sintesa
semua perspektif itu. Dalam prespektif objek telah dikonstitusi. Pada akhirnya
Husserl selalu mementingkan dimensi historis dalam kesadaran dan dalam realita.
Suatu fenomen tidak pernah merupakan sesuatu yang statis, arti suatu fenomen
tergantung pada sejarahnya. Ini berlaku bagi sejarah pribadi umat manusia,
maupun bagi keseluruhan sejarah umat manusia. Sejarah Kita selalu hadir dalam
cara Kita menghadapi realitas. Karena itu konstitusi dalam filsafat Husserl
selalu diartikan sebagai “konstitusi genetis”. Proses yang mengakibatkan suatu
fenomen menjadi nyata dalam kesadaran, adalah merupakan suatu aspek historis.[15]
Dalam melihat hakekat dengan intuisi
ini, Husserl memperkenalkan pendekatan reduksi, yakni
penundaan segala pengetahuan yang ada tentang obyek sebelum pengamatan itu
dilakukan. Reduksi ini juga dapat diartikan sebagai penyaringan atau
pengecilan. Reduksi ini merupakan salah satu prinsip dasar sikap fenomenologis,
dimana untuk mengetahui sesuatu, seorang fenomenolog bersikap netral dengan
tidak menggunakan teori-teori atau pengertian-pengertian yang telah ada
sehingga obyek diberi kesempatan untuk “berbicara tentang dirinya sendiri”.
Istilah lain yang digunakan oleh Husserl
adalah epoche, yang artinya melupakan pengertian-pengertian
tentang obyek untuk sementara dan berusaha melihat obyek secara langsung dengan
intuisi tanpa bantuan pengertian-pengertian yang ada sebelumnya.
Menurut husserl, benda-benada tidaklah
secara langsung memperlihatkan hakikat dirinya. Apa yang Kita temui pada
benda-benda itu dalam pemikiran biasa bukanlah hakikat. Hakikat benda itu ada
dibalik yang kelihatan itu. Karena pemikiran pertama (first look) tidak membuka tabir yang menutupi hakikat,
maka diperlukan pemikiran kedua (second look). Alat
yang digunakan untuk menemukan hakikat pada pemikiran kedua ini adalah intuisi.
Dalam usaha untuk melihat hakikat dengan intuisi, Husserl memperkenalkan
pendekatan Reduksi, yaitu penundaan
segala ilmu pengetahuan yang ada tentang objek, sebelum pengamatan intuitif
dilakukan.
Reduksi juga dapat diartikan penyaringan
atau pengecilan. Istilah lain yang digunakan Husserl adalah epoche yang artinya sebagai penempatan sesuatu di
antara dua kurung (metode bracketing). Maksudnya adalah melupakan
pengertian-pengertian tentang objek untuk sementara, dan berusaha melihat objek
secara langsung dengan intuisi tanpa bantuan pengertian-pengertian yang ada
sebelumnya. Dengan kata lain reduksi berarti kembali pada dunia pengalaman.
Pengalaman adalah tanah dari mana dapat tumbuh segala makna dan
kebenaran. Ada 3 macam reduksi yang ditempuh untuk mencapai realitas
fenomen dalam pendekatan fenomenologi itu, yaitu Reduksi Fenomenologis, Reduksi
Eidetis, dan Reduksi Fenomenologi Transedental.[16]
1. Reduksi Fenomenologis.
Menyingkirkan segala sesuatu yang
subyektif[17]. Sikap Kita harus obyektif, terbuka
untuk gejala-gejala yang harus “diajak bicara”. Walaupun demikian, fenomen itu
memang merupakan data, sebab sama sekali tidak disangkal eksistensinya, hanya
tidak diperhatikan. Namun obyek yang diteliti hanya yang sejauh Kita sadari.
Hal yang dilakukan oleh Husserl dalam Reduksi Fenomenologis ini adalah:
1. Dengan “mengurung” atau bracketing yaitu
meminggirkan keyakinan Kita akan totalitas obyek-obyek dan segala hal yang Kita
terlibat dengannya dari pendirian alamiah ataupun bahkan pengalaman Kita
tentangnya.
2. Menjelaskan struktur dari apa yang tetap ada setelah dilakukan
“pengurungan”.
3. Reduksi Eidetis.[18]
Adalah menyingkirkan seluruh pengetahuan
tentang obyek yang diselidiki dan diperoleh dari sumber lain. Maksud reduksi
ini ingin menemukan eidos(intisari),
atau sampai kepada wesen-nya (hakikat).
Karena itu, reduksi ini juga disebut wesenchau, artinya
di sini, Kita melihat hakikat sesuatu. Hakikat yang dimaksud Husserl bukan
dalam arti umum, misalnya, “manusia adalah hakikatnya dapat mati”, bukan suatu
inti yang tersembunyi, misalnya, “hakikat hidup”, bukan pula hakikat seperti
yang dimaksud Aristoteles, seperti, “manusia adalah binatang yang berakal”.
Hakikat yang dimaksud Husserl adalah struktur dasariah, yang meliputi isi
fundamental, ditambah semua sifat hakiki, lalu ditambah pula semua relasi
hakiki dengan kesadaran serta objek lain yang disadari. Tujuan sebenarnya dari
reduksi adalah untuk mengungkap struktur dasar (esensi, eidos, atau hakikat)
dari suatu fenomena (gejala) murni atau yang telah dimurnikan. Oleh karena itu,
dalam reduksi eidetis yang harus dilakukan adalah jangan dulu mempertimbangkan
atau mengindahkan apa yang sifatnya aksidental atau eksistensial. Dan caranya
adalah dengan “menunda dalam tanda kurung”. Dengan reduksi eidetis ini, dimana
dalam khayalan semua perbedaan-perbedaan dari sejumlah item dihilangkan
sehingga tinggal suatu esensi saja.
1. Reduksi Fenomenologis Transedental.[19]
Adalah dengan menyingkirkan seluruh
reduksi pengetahuan. Segala sesuatu yang sudah dikatakan oleh orang lain harus
untuk sementara dilupakan. Kalau reduksi-reduksi ini berhasil, maka gejala
tersebut dapat memperlihatkan diri menjadi fenomen. Dalam
reduksi yang ketiga ini sudah bukan lagi mengenai objek atau fenomen, tetapi khusus pengarahanintensionalitas ke subjek mengenai akar-akar
kesadaran, yakni mengenai kesadaran sendiri yang bersifat transedental. Fenomenologi harus menganalisis dan
menggambarkan cara berjalannya kesadaran transedental.
Fenomenologi Max Scheler
Disamping Husserl, filsuf lain yang juga
terlibat dalam filsafat fenomenologi adalah Max Scheler. Scheler juga
menggunakan metode Husserl dan tidak berusaha untuk menganalisa dan menerangkan
lebih jauh tentang suatu obyek dan gejala-gejalanya. Bagi Scheler, fenomenologi
merupakan “jalan keluar” ketidakpuasannya atas logisisme-transendentalis Immanuel
Kant dan Psikologisme Empiris. Dan pemikiran yang paling utama Scheler adalah
tentang fenomenologi etika.
Dalam pandangan Scheler tentang
fenomenologi etis, benda dianggap sebagai “sesuatu” yang bernilai; oleh karena
itu, adalah keliru menginginkan inti nilai dari benda-benda, atau memandang
keduanya dengan tempat berpijak yang sama. Dunia benda-benda terdiri atas
segala sesuatu, maka dapat dihancurkan oleh kekuatan alam dan sejarah. Dan jika
nilai moral kehendak kita tergantung pada benda-benda, maka kehancuran tersebut
akan mempengaruhinya. Sebaliknya benda itu memiliki nilai empiris, induktif,
dan prinsip yang didasarkan diatasnya bersifat relatif.[20]
Pertanyaannya sekarang adalah, bagaimana sebuah prinsip yang universal dan
pasti dapat diturunkan dari realitas yang berubah, yang tidak stabil? Jika
etika benda-benda diterima, prinsip-prinsip moral akan tertinggal di belakang
evolusi sejarah, dan, kata Scheler, adalah tidak mungkin untuk mengkritik dunia
benda-benda yang ada pada satu jaman tertentu, karena etika pasti didasarkan
pada benda-benda tersebut.
Juga salah, bahwa setiap prinsip etis
yang berusaha untuk menetapkan tujuan yang berkaitan dengan nilai moral dari
hasrat yang terukur. Sebab tujuan, sebagaimana adanya, tidak pernah baik
ataupun buruk, sebab benda-benda itu bebas dari nilai yang harus
direalisasikan. Dengan model pemikiran seperti ini, maka menurut Scheler,
perilaku yang baik dan yang buruk tidak dapat diukur dengan
menghubungkannya dengan tujuan karena konsep tentang baik dan buruk tidak dapat
disarikan dari isi empiris tujuan.. Jelasnya, Scheler ingin mengatakan bahwa
nilai itu berasal dari benda-benda, namun tidak tergantung pada mereka. Dan
dari ketidaktergantungan tersebut memungkinkan benda itu untuk “menyusun”
sebuah etika aksiologis yang sekaligus material dan a priori.[21]
Lebih jelasnya lagi, Scheler mengilustrasikannya dengan membandingkan
“nilai” dengan “warna” untuk menunjukkan bahwa didalam kasus keduanya terdapat
persoalan tentang kualitas yang keberadaannya tidak tergantung pada benda.
Scheler mengatakan bahwa “merah” sebagai kualitas murni dalam spektrum, tanpa
mengalami perlunya untuk mengkonsepsikannya sebagai yang meliputi permukaan
yang berbadan.
Dengan cara yang sama, “nilai” yang
terkandung didalam benda serta pembentukan atas suatu “kebaikan” tidak
tergantung pada benda tersebut. Menurut Scheler, kita tidak memahami, misalnya
nilai kenikmatan atau estetik melalui induksi yang umum. Dalam kasus tertentu,
satu obyek atau perbuatan tunggal cukup memadai bagi kita untuk menangkap nilai
yang terkandung didalamnya. Sebaliknya, kehadiran nilai yang menyertai obyek
yang bernilai memiliki hakekat “baik”. Dengan cara ini, kita tidak memeras
keindahan dari benda yang indah; karena keindahan mendahului bendanya.[22] Dan bila dikaitkan dengan
perbuatan manusia, maka menurut Scheler, manusia bukanlah pencipta nilai
tingkah laku karena nilai-nilai itu berada diluar diri manusia. Lebih lanjut
Scheler mengatakan bahwa tugas manusia adalah mengakui nilai-nilai itu serta
mengikutinya dalam hidup[23]
BAB III.
PENUTUP
Dari pemaparan di atas dapat kami
simpulkan bahwa ciri khas pemikiran Fenomenologi Husserl tentang bagaimana
semestinya menemukan kebenaran dalam filsafat terangkai dalam satu
kalimat “Nach den sachen selbst” (kembalilah
kepada benda-benda itu sendiri).
Bagaimana pun jua kami sangat sadar bahwa karya ini masih sangat jauh dari
sempurna. Oleh karena itu kami mengharapkan kritikan dan masukan agar kedepan
dapat menjadi lebih baik lagi. Dan semoga apa yang kami berikan dapat menjadi
manfaat bagi pembaca.
DAFTAR PUSTAKA
Bertens, K., Filsafat Barat Abad XX: Inggris-Jerman, Jakarta:
Gramedia, 1981.
Hadiwijono, Harun, Sari Sejarah Filsafat Barat 2, Yogyakarta: Kanisius,
1980.
Adian, Donny Gahral, Pilar-Pilar Filsafat Kontemporer. Jogjakarta :
Jalasutra, 2002
Frondizi, Risieri, Pengantar Filsafat Nilai, Cuk Ananta Wijaya,
Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001
Poedjwijatna, I.R., Pembimbing ke Arah Alam Filsafat, Jakarta: Rineka
Cipta, Cet. X, 1997
Drijarkara, N. SJ., Percikan Filsafat, Jakarta: PT Pembangunan, 1981
Bagus, Lorens, Kamus Filsafat, Jakarta: Gramedia, 1996.
Bagus, Lorens, “Edmund Husserl: Kembali
pada Benda-benda Itu Sendiri”,Para Filosof Penentu Gerak
Zaman . Yogyakarta: Kanisius, 1992.
Delfgaauw, Bernard, Filsafat Abad 20, terj. Soejono Soemargono, Yogyakarta:
Tiara Wacana, 1988.
Bernet, Rudolf, Iso Kern, and Eduard
Marbach.. An Introduction to Husserlian Phenomenology.
Evanston, Ill.: Northwestern University Press,1993.
[1] K. Bertens, , Filsafat Barat Abad XX: Inggris-Jerman (Jakarta:
Gramedia, 1981) h. 109
[2] http://banyubeningku.blogspot.com/2011/04/filsafat-fenomenologi-edmund-husserl.html
[3] Doni Gahral Adian, Pilar Pilar Filasafat Kontemporer, Jogjakarta:
Jala Sutra, 2002, h. 21
[4] Ibid h. 23
[5] http://id.wikipedia.org/wiki/Edmund_Husserl
[6] K. Bertens, Filsafat Barat Abad XX Jerman, (Jakarta: PT.
Gramedia, Anggota IKAPI, 1981), h. 98.
[7] Bernet, Rudolf; Kern, Iso; and
Marbach, Eduard. Introduction to Husserlian Phenomenology. (Evanston,
IL: Northwestern University Press, 1993), h. 246-47.
[8] http://banyubeningku.blogspot.com/2011/04/filsafat-fenomenologi-edmund-husserl.html
[9]http://ruangmerindukandiadandia.wordpress.com/2010/02/14/fenomenologi-edmund-husserl/
[10] K. Bertens, , Filsafat Barat Abad XX: Inggris-Jerman (Jakarta:
Gramedia, 1981) H. 90
[11] Bernard Delfgaauw, Filsafat Abad 20, Alih Bahasa Soejono Soemargono
(Yogyakarta: Tiara Wacana, 1988),
[12] http://www.slideshare.net/mazizaacrizal/fenomenologi-3572675
[13] ibid
[14] Ibid.
[15] http://www.utm.edu/research/iep/h/husserl.htm.
[16] Lorens Bagus, “Edmund Husserl:
Kembali pada Benda-benda Itu Sendiri”, Para Filosof Penentu Gerak
Zaman (Yogyakarta: Kanisius, 1992). H. 90
[17] Harun Hadiwijono, Sari Sejarah Filsafat Barat 2, Yogyakarta: Kanisius,h.
143
[18] N. Drijarkara, SJ., Percikan Filsafat (Jakarta: PT Pembangunan, 1981)
hh. 120-121.
[19] ibid
[20] Risieri Frondizi, Pengantar Filsafat Nilai, Cuk Ananta Wijaya,
Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001, h. 109
[21] Ibid. h. 110
[22] Ibid. h. 111
[23] I.R. Poedjiwijatna, Pembimbing ke arah Alam Filsafat, jakarta; Rineka
Cipta, Cet X, 1997. H. 109
Demikian semoga bisa dijadikan sebagai refrensi penulian makalah bagi rekan rekn semua
Demikian semoga bisa dijadikan sebagai refrensi penulian makalah bagi rekan rekn semua
Tag :
Pecel

0 Komentar untuk "Makalah Filsafat : Filsafat Fenomenologi"